PEMIKIRAN HASSAN HANAFI TENTANG FUNGSI AGAMA DALAM REFORMASI SOSIAL DI NEGARA BERKEMBANG

Moh, and Nurhakim, (2012) PEMIKIRAN HASSAN HANAFI TENTANG FUNGSI AGAMA DALAM REFORMASI SOSIAL DI NEGARA BERKEMBANG.

Full text not available from this repository.
Official URL: http://elib.unikom.ac.id/gdl.php?mod=browse&op=rea...

Abstract

Tujuan penelitian ini, untuk mengeksplorasi pemikiran Hassan Hanafi tentang peran agama dalam reformasi sosial. Sejauh mana agama memainkan peranan dalam perubahan-perubahan mendasar di negara berkembang. Di samping itu, penelitian bertujuan menjawab, apa pandangan Hanafi tentang problem sosial yang dihadapi oleh negara berkembang, dan reformasi yang bagaimanakah yang diperlukan untuk mengatasi problem tersebut. Penelitian ini termasuk penelitian pustaka, di mana data sepenuhnya berbentuk tulisan-tulisan tentang pemikiran Hanafi yang terdapat dalam buku-buku dan majalah. Metode analisis data menggunakan apa yang disebut oleh Yuyun Surio Sumantri sebagai metode analisis kritis dengan analisis isi teks. Berdasarkan pengamatannya terhadap kasus Mesir antara tahun 1952-1981, Hassan Hanafi menemukan bahwa problem sosial negara berkembang itu meliputi: kolonialisme dengan berbagai macam akibatnya; pemerintahan otoriter dan diktaktor; keterbelakangan masyarakatnya; stagnasi pemikiran pada umumnya; dan, sikap-sikap westernis yang terjadi di kalangan pemerintahan, pendidikan maupun gaya hidup masyarakatnya. Untuk mengatasi problem tersebut, menurut Hanafi, dibutuhkan strategi reformasi sosial sesuai dengan ciri-ciri negara berkembang. Selanjutnya, ia menawarkan langkah-langkah reformasi: pembebasan bumi Arab dari kolonial dengan segala implikasinya; mempercepat proses demokratisasi; pembaharuan dan modernisasi pemikiran; merekonstruksi tradisi sejalan dengan kebutuhan masa kini; dan, upaya kembali kepada kebudayaan nasional sendiri. Peran agama dalam reformasi sosial di negara berkembang, menurut Hanafi, dapat dilihat pada tiga bentuk berdasarkan perkembangannya di Mesir. Pertama, peran agama sebagai kekuatan revolusi, di mana agama digunakan untuk membangkitkan semangat pembaharuan dan revolusi negara berkembang. Kedua, agama sebagai kekuatan pertahanan, di mana agama digunakan untuk pertahanan ideologi dari serangan ideologi lain, bahkan agama dipergunakan untuk melawannya dalam batas-batas tertentu. Ketiga, agama sebagai kekuatan moral, dalam arti bahwa reformasi sosial yang sebenarnya dapat dilakukan secara efektif manakala pelakunya berangkat dari kekokohan iman, serta pertimbangan-pertimbangan moral agama yang mapan. Dalam hal ketiga, Hanafi memberikan catatan, bahwa sebagai strategi yang demikian tidak tepat, sebab perubahan-perubahan sosial yang signifikan tidak dapat dimulai dari sikap bertahan. Menurut peneliti, berdasarkan hasil penelitian ini, teori fungsional versi Nottingham, bahwa agama mempersatukan sekaligus memecah-belah, dapat menjelaskan pengalaman politik di negara berkembang. Hanya saja, term memecahbelah dalam kesadaran pelaku kaum Muslimin tidak dapat diterima. Fungsi memecah-belah dimaknai secara teologis sebagai tindakan absah demi keseimbangan politik dan melawan kezaliman.

Item Type: Article
Subjects: Collections > Koleksi Perpustakaan Di Indonesia > Perpustakaan Di Indonesia > JIPTUMM > Research Report > Islamic Studies > Tarbiyah
Divisions: Universitas Komputer Indonesia > Perpustakaan UNIKOM
Depositing User: M.Kom Taryana Suryana
Date Deposited: 16 Nov 2016 07:38
Last Modified: 16 Nov 2016 07:38
URI: http://repository.unikom.ac.id/id/eprint/3552

Actions (login required)

View Item View Item