Perpustakaan dan peradaban sejarah dan prestige suatu profesi

Indrawan, Bayu (2009) Perpustakaan dan peradaban sejarah dan prestige suatu profesi.

Full text not available from this repository.
Official URL: http://elib.unikom.ac.id/gdl.php?mod=browse&op=rea...

Abstract

Kalau kita melihat awal pembentukan perpustakaan, tentu saja kita tidak dapat melepaskan ingatan kita akan suatu penemuan mesin cetak pertama kalinya oleh Gutenberg pada abad 14. Dengan ditemukannya mesin cetak, maka terjadi percepatan penggandaan bahan- bahan pustaka, dimulai untuk penggunaan selebaran pengumuman Raja-raja di Eropa, catatannya, sampai kepada selebaran keagamaan Sang paus di Vatikan. Menurut versi ilmuwan muslim, hal yang cukup bisa dijadikan sejarah terbentuknya Perpustakaan untuk pertama kalinya adalah setelah ditemukannya kertas oleh bangsa Cina pada abad 8. Lalu terbentuknya suatu administrasi yang teratur di lingkungan kerajaan-kerajaan di Timur tengah pada abad 9. Terutama di kota Bahgdad yang merupakan sentral peradaban dunia pada waktu itu, menjadikan petugas dokumentasi atau profesi pustakawan mempunyai kelas yang tinggi/ prestise di antara profesi-profesi lain. Karena profesi Pustakawan (information worker) erat kaitannya dengan seorang yang cerdik pandai dan memegang rahasia kerajaan. Setelah itu untuk pertama kalinya terbentuk suatu jenjang pendidikan di dunia setingkat perguruan tinggi pada abad 9, di kota Bahgdad. Yang di dalam perguruan tinggi tersebut ada pula perpustakaan. Ini merupakan cikal bakal untuk pertama kalinya Perpustakaan Perguruan Tinggi. Lalu pada abad-abad berikutnya yang cukup termasyur bagi dunia islam tentang perpustakaan perguruan tinggi adalah Perpustakaan perguruan tinggi di Istambul Turki, dan Perpustakaan perguruan tinggi di Universitas Cordova di Spanyol pada abad 11. Pada masa kini abad 21, kita menyaksikan begitu rumitnya suatu pekerjaan perpustakaan. Lalu, terbentuklah unit-unit yang lebih spesifik tentang suatu pekerjaan ini yang secara makro berkaitan pula dengan istilah kerennya Knowledge Management. Kalau kita lihat pada akhir abad 20 menjelang abad 21 tepatnya pada tahun 1982, terjadi perkembangan teknologi informasi atawa telematika yang cukup spektakuler dimana pada tahun tersebut dinas militer rahasia Amerika mula-mula di dunia telah menemukan komputer yang berjejaring alias Internet (internasional network) yang dapat mengirimkan teks secepat suara, yang mengubah bentuk-bentuk teks begitu cepat dan mudah dibaca dan diterima (HTTP = Hyper Teks Transfer Protocol), tidak berbentuk seperti sandi morse yang banyak kelemahannya. Lalu dipakai dalam dunia industri dan bisnis pada tahun-tahun berikutnya di AS.Lalu pada akhir tahun 80-an dipakai oleh kalangan pendidikan di AS dan negara-negara barat (Eropa). Setahu penulis, sekitar pertengahan tahun 1990-an atawa sekitar tahun 1995, awal mula internet dipakai di Indonesia, terutama di kalangan perguruan tinggi, jurnalistik dan kalangan cendikiawan militer. Mula-mula dipakai untuk berkirim surat melalui fasilitas e-mail, dan lalu fasilitas-fasilitas lainnya: seperti berbelanja online (yang terkenal amazon), untuk forum diskusi, milist, animasi gratisan, mesin pencari online, sampai pembuatan website dan milist. Terjadinya reformasi damai dan "babak belurnya" militer sampai klimaksnya kejatuhan Soeharto di Indonesia pada Mei 1998 tidak terlepas dari peran sangat cepat dan banyak yang dapat mempengaruhi opini publik daripada kaum jurnalistik dan cendikiawan Indonesia melalui media Internet yang begitu global, sehingga terjadi Global Diaspora yaitu istilah dimana terjadi demam yang menjamur secara level dunia (global) tentang percepatan, pada tahun 1998 terjadi percepatan euporia demokrasi di Indonesia yang didukung pula oleh jurnalistik dunia, terutama jurnalistik negara-negara barat. Pada tahun 2000 terjadilah hal yang menjadi ledakan informasi atawa istilah kerennya year two key (Y2K) dimana kekhawatiran tentang kerancuan atawa tumpang tindih digit 2 yaitu 00, yang dapat dibaca tahun 00 masehi, 00 atau 1900 masehi ataupun 00 tahun 2000 masehi, harus direstrukturisasi secara meyeluruh yang menelan biaya yang sangat tinggi bahkan sampai jutaan dolar bagi suatu perusahaan. Lalu dimana peran pustakawan untuk kekinian? (2000 sampai kini). Kita cukup bersyukur, walau kita berpendidikan diploma perpustakaan, mengenyam, mencerna, dan menyerap teori ilmu perpustakaan yang cukup pusing dan memang nomor satu untuk teori Ilmu Perpustakaan di Indonesia. Dari "pendekar-pendekar" yang berilmu mumpuni tentang teori, misal: pengajar mata kuliah Katalog yang diajarkan SM, menjadikan kita cukup mengerti tentang pencarian istilah, melalui kamus, glosary, thesaurus dengan istilah-istilah Use, use for, BT (istilah Umum), NT (istilah khusus), RT (istilah berhubung) sampai pengindeksan, dll. Dan bahkan mungkin kita dapat membuat thesaurus. Hal yang menarik, adalah ketika pada tahun 1999 terjadi merger dan akusisi 2 jurusan diploma gedung delapan, yakni Diploma Jurusan Ilmu Perpustakaan dengan Diploma Kearsipan di FSUI, (sekarang FIB-UI) yang cukup banyak kritikan yang terjadi di Gedung 9 (yang dihadiri oleh penulis), yang konon menjawab tantangan kemajuan jaman tentang perkembangan ilmu -ilmu mengenai dokumentasi. Yang sekarang mejadi jurusan MID (Manajemen Informasi dan Dokumentasi) , memang sarat kurikulum yang berbobot (memberatkan mahasiswakah? ). Hal ini pernah menjadi diskusi (walau lawas) sesama warga angkatan 1997, MID anak siapa sih Bay? tanya kawan kepadaku. Anak perpustakaanlah, jawabku sekenanya, dengan alasan dengan ibarat bahwa jika jalan besar/ jalan raya adalah knowledge management (KM), jalan kecil itu yach Ilmu perpustakaan sedangkan Gang adalah Ilmu Kearsipan. Namun banyak warga diploma Perpustakaan dari alumni tahun 80-an sampai angkatan 1999, bingung mengklaimnya sebagai junior atau warganya. Kita tidak dapat memungkiri, bahwa di JIP-UI, merupakan keilmuan yang bersifat america oriented yang cenderung kapitalistik. Jika kita lulus, dimana kita akan bekerja enak dengan gaji yang tinggi. Setelah lulus kita disibukan ingin menjadi "karyawan' dengan nyaman dan gaji tinggi, bahkan (mungkin) sampai KKN (Korupsi, Kolusi, Nepotisme). Kata Mutiara dari Ilmuwan masyur yang bernama Albert Einstein perlu menjadi renungan, yakni : "Jangan kau anggap belajar itu merupakan suatu beban namun anggaplah betapa indahnya ilmu pengetahuan" . Lalu kita dapat belajar dimana? apakah salah satunya melalui media internet untuk mencapai keilmuan level S1 tanpa ijazah? Amerikalah, sang mahaguru kita, negara yang mula- mula meyetujui Data Flow Chart; yaitu kebijakan terbuka tentang arus informasi apapun juga yang masuk tanpa sensor melalui suatu negara. Berterimakasihkah kita terhadap Amerika? Amerika, walau liberal ternyata mau posisi seimbang alias satu sama. Amerika ternyata percaya sama hitam di atas putih,(walau bercanda, guyon dan tidak resmi), menyebalkan memang (ini pernah dianalisis penulis pada tahun 2001-2004). Jadi, hati-hatilah anda terhadap hitam diatas putih alias tulisan di dunia maya, Amerika ternyata kurang menyukai yang (selalu) gratisan melulu, apalagi untuk bisnis (Walau penulis tidak pernah mengambil keuntungan secara materi, selain untuk pembelajaran) . -=Bayu Thea=- Penulis adalah warga Ikadip angkatan 1997. Sekarang menjadi pustakawan keliling.

Item Type: Article
Subjects: Member > dyah@unikom.ac.id
Divisions: Universitas Komputer Indonesia > Perpustakaan UNIKOM
Depositing User: M.Kom Taryana Suryana
Date Deposited: 16 Nov 2016 07:49
Last Modified: 16 Nov 2016 07:49
URI: https://repository.unikom.ac.id/id/eprint/12491

Actions (login required)

View Item View Item