Analisis Kredit Bermasalah Dampaknya Terhadap Profitabilitas Pada PT. Bank Tabungan Pensiunan Nasional, Tbk

Trisniya Sari, Mustika (2010) Analisis Kredit Bermasalah Dampaknya Terhadap Profitabilitas Pada PT. Bank Tabungan Pensiunan Nasional, Tbk.

Full text not available from this repository.
Official URL: http://elib.unikom.ac.id/gdl.php?mod=browse&op=rea...

Abstract

Perkembangan ekonomi Indonesia yang diiringi oleh peningkatan aktivitas dunia usaha yang mengakibatkan kebutuhan dana yang besar. Perbankan sebagai lembaga perantara mempunyai tugas pokok yaitu menghimpun dana dari masyarakat dan menyalurkannya kembali pada sektor-sektor produktif. Kebutuhan dana yang besar ini dapat dipenuhi dengan memanfaatkan peran perbankan dalam menghimpun dana dari masyarakat, baik melalui tabungan,, giro serta instrument lainnya. Perbankan mempunyai beberapa fungsi, salah satunya sebagai lembaga keuangan yang menjadi perpanjangan tangan Bank Indonesia (BI) dalam menetapkan setiap kebijakan moneter. Kebijakan moneter dikeluarkan oleh BI sebagai bank sentral untuk mengatur setiap peredaran uang di Indonesia agar tetap dalam keadaan yang terkontrol, sehingga menciptakan iklim ekonomi yang kondusif untuk melakukan kegiatan usaha. Sumber pendapatan bank berasal dari selisih bunga kredit dan simpanan sehingga resiko kredit menjadi perhatian utama bank. Resiko kredit adalah eksposur yang timbul sebagai kegagalan pihak lawan dalam memenuhi kewajibannya, baik pinjaman pokok maupun bunganya tidak dapat dibayar atau dilunasi. 2 Dalam usaha memperoleh keuntungan, para pengelola bank selalu dihadapkan pada dua pilihan yaitu kebutuhan debitur melalui penyaluran kredit dengan konsekuensi resiko yang cukup tinggi atau menyimpan dananya melalui investasi dengan resiko kecil tergolong aktiva produktif dengan penerimaan tinggi, tetapi penyaluran kredit juga mengandung resiko yang cukup tinggi terhadap perolehan laba. Perusahaan yang bergerak di sektor perbankan seperti PT. Bank Tabungan Pensiunan Nasional Tbk (disingkat PT. BTPN Tbk) memiliki peran sebagai lembaga perantara. Bank BTPN menyalurkan dana kepada masyarakat atau pihak lain dalam berbagai bentuk salah satunya melalui kredit. Melalui kredit yang dicairkan atau diberikan bank akan memperoleh pendapatan dalam bentuk bunga yang menjadi salah komposisi perolehan laba. Menurut laporan keuangan PT. Bank Tabungan Pensiunan Nasional Tbk yaitu periode tahun 2002 hingga 2009, bahwa pada tahun 2005 profitabilitas (ROA) PT. Bank Tabungan Pensiunan Nasional Tbk mengalami penurunan yang tajam yaitu sebesar 52.12%. Penurunan tersebut salah satunya dikarenakan oleh semakin tingginya kredit bermasalah (non performing loan) pada PT. Bank Tabungan Pensiunan Nasional Tbk. Salah satu penyebab turunnya profitabilitas PT. Bank Tabungan Pensiunan Nasional Tbk adalah adanya kredit bermasalah yang ada di PT. Bank Tabungan Pensiunan Nasional Tbk tersebut. Kredit bermasalah menggambarkan suatu situasi dimana persetujuan pengembalian kredit mengalami risiko kegagalan, bahkan cenderung menuju atau mengalami rugi yang potensial. Kredit bermasalah 3 selalu dikarenakan kesalahan nasabah merupakan hal yang salah. Kredit berkembang menjadi bermasalah dapat disebabkan oleh berbagai hal yang berasal dari nasabah, bahkan dari pemberi kredit sendiri. Selain nasabah pihak bank juga bisa menyebabkan kredit bermasalah tersebut terjadi, karena kesalahan bank yang kemudian mengakibatkan kredit yang diberikan menjadi masalah dapat berawal dari tahap perencanaan, tahap analisis dan tahap pengawasan. Pengembalian dana pinjaman (kredit) oleh para debitur akan mengalami permasalahan apabila bank kurang selektif dalam memillih calon debitur maka akan timbul Non Performing Loan /NPL, yaitu debitur tidak mampu membayar hutangnya pada pihak kreditur sesuai jangka waktu yang telah ditentukan. Penilaian profitabilitas bank didasarkan pada ukuran ketiga faktor yaitu posisi laba/rugi menurut pembukuan, profitabilitas bank, rata-rata dan perkembangannya selama tiga tahun terakhir dan laba/rugi yang diperkirakan oleh bank. Profitabilitas bank dapat diukur dengan Return On Assets (ROA). Kegiatan operasional utama bank adalah memberikan kredit. Kredit merupakan pos harta (Assets) terbesar dan bunga kredit sekaligus sebagai sumber penghasilan terbesar bagi bank. Dalam usaha dalam meningkatkan profitabilitasnya, maka pihak bank akan berusaha mencapainya melalui peningkatan kredit, tetapi peningkatan penyaluran dana melalui kredit ternyata tidak selamanya diiringi peningkatan perolehan laba bahkan jumlah dana yang tidak kembali atas dana yang telah dukucurkan oleh bank semakin meningkat. 4 Pada proses penyaluran dana, prinsip kehati-hatian bank semakin diperketat dengan munculnya Peraturan Bank Indonesia, yaitu PBI No. 6/9/PBI/2004 pasal 2 ayat 2 (g) tentang Tindak Lanjut Pemeriksaan Bank (Pengawasan dan Penetapan Status Bank) yang menyatakan bahwa bank yang dinilai memiliki potensi kesulitan yang dapat membahayakan kelangsungan usahanya adalah bank yang salah satu kriterianya memuat kategori NPL di atas 5% secara netto dari total kredit. Oleh karena itu bank dituntut untuk semakin hati-hati dalam menyalurkan dananya. Hal ini tentu saja dapat dicapai bila perbankan menerapkan pola kerja yang efisien, inovatif, kreatif dan produktif dalam menjalankan kegiatan usahanya. Permasalahan kolektibilitas disebut dengan Non Performing Loan (NPL) yang terdiri dari pembayaran kurang lancar, ragukan dan macet. Tujuan utama dari setiap kegiatan usaha adalah untuk mencapai keuntungan yang pada akhirnya diharapkan dapat menjaga ekstensi perusahaan pada masa yang akan datang. Keuntungan atau profit dijadikan landasan utama atau tujuan bagi setiap aktivitas bisnis. Hal tersebut juga terjadi pada dunia perbankan. Dampak timbulnya NPL dapat mengakibatkan penerimaan pendapatan bank menjadi berkurang. Pengurangan tersebut timbul karena adanya tambahan biaya yang muncul akibat pembayaran bermasalah, komponen biaya ini menjadi penambah unsur biaya yang menjadi pengurang pada pendapatan yang diterima oleh bank. Hasilnya profit yang diterima akan berkurang, sehingga akan mempengaruhi kinerja keuangan perbankan. 5 Tabel 1.1 Perkembangan Non Performing Loan dan Tingkat Return On Asset PT. Bank Tabungan Pensiunan Nasional Tbk Periode 2002-2009 (Dalam Jutaan Rupiah) Tahun Jumlah Kredit Bermasalah Total Kredit yang diberikan NPL (%) EBIT Total Asset ROA (%) X Y 2002 135.698 2.233.000 6.07 218.320 2.997.851 7.28 2003 97.982 2.365.260 4.14 258.796 3.036.359 8.52 2004 60.457 2.637.967 2.29 289.526 3.615.896 8.00 2005 74.006 3.233.505 2.28 172.067 4.483.119 3.83 2006 74.296 4.904.824 1.51 251.008 6.353.579 3.95 2007 47.887 7.811.073 0.61 503.419 10.549.069 4.77 2008 59.575 10.425.631 0.57 570.302 13.684.022 4.16 2009 80.697 15.722.862 0.51 602.085 21.829.562 2.75 Sumber : Laporan Keuangan PT. Bank Tabungan Pensiunan Nasional Tbk (data diolah kembali) Tabel 1.1 di atas secara garis besar bisa dilihat bahwa disetiap adanya peningkatan NPL selalu diiringi dengan penurunan ROA begitu juga sebaliknya disetiap adanya peningkatan ROA selalu diiringi dengan penurunan NPL seperti pada tahun 2002, 2003, 2006, dan 2007. Namun pada tahun 2004 NPL Bank BTPN mengalami penurunan dari tahun sebelumnya yaitu dari 4.14% menjadi 2,29% dan disini ROA ikut mengalami penurunan dari tahun sebelumnya yaitu 8.52% menjadi 8.00%. Dan pada tahun 2005 NPL Bank BTPN kembali mengalami penurunan dari tahun sebelumnya dari 2,29% menjadi 2.28% dan diiringi penurunan ROA dari 8.00% menjadi 3.83%. Pada tahun 2008 NPL Bank BTPN kembali mengalami penurunan dari tahun sebelumnya dari 0.61% menjadi 0.57% dan diiringi pula penurunan ROA dari 4.77% menjadi 4.16%. Dan pada tahun 2009 Bank BTPN terdapat penurunan NPL dari tahun sebelumnya yaitu 6 0.57% menjadi 0.51% dan diiringi pula dengan penurunan ROA dari 4.16% menjadi 2.75%. Dari fenomena di atas terdapat ketidak sesuaian dengan teori. Hal ini dikarenakan adanya faktor lain yang mempengaruhinya. Grafik 1.1 Perkembangan Non Performing Loan dan Return On Asset PT. Bank Tabungan Pensiunan Nasional (Persero) Tbk Periode 2002-2009 Grafik 1.1 di atas menunjukkan lebih jelas bahwa disetiap adanya kenaikan NPL maka ROA mengalami penurunan begitupun sebaliknya, dan disinipun bisa terlihat jelas fenomena yang ada pada PT. Bank Tabungan Pensiunan Nasional Tbk pada tahun 2004, 2005, 2008, 2009 ROA mengalami Penurunan seiring dengan menurunnya NPL. 6.07% 4.14% 2.29%2.28% 1.51% 0.61%0.57% 0.51% 7.28% 8.52% 8.00% 3.83%3.95% 4.77% 4.16% 2.75% 0.00% 1.00% 2.00% 3.00% 4.00% 5.00% 6.00% 7.00% 8.00% 9.00% 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 Tingkat NPL dan ROA Tahun NPL ROA 7 Berdasarkan fenomena yang telah dikemukakan, penulis tertarik untuk mengambil bahasan tentang Non Performing Loan (NPL) dikaitkan dengan profitabilitas tahun 2002 sampai dengan tahun 2009 dan penulis mencoba menuangkannya dalam penelitian dengan judul : �¢����Analisis Kredit Bermasalah (NPL) dan Dampaknya Terhadap Profitabilitas (ROA) pada PT. Bank Tabungan Pensiunan Nasional Tbk.�¢����

Item Type: Article
Uncontrolled Keywords: Profitabilitas,Analisis, Kredit Bermasalah
Subjects: S1-Final Project > Fakultas Ekonomi Bisnis > Manajemen > 2010
Divisions: Universitas Komputer Indonesia > Fakultas Ekonomi
Universitas Komputer Indonesia > Fakultas Ekonomi > Manajemen (S1)
Depositing User: M.Kom Taryana Suryana
Date Deposited: 16 Nov 2016 07:54
Last Modified: 16 Nov 2016 07:54
URI: https://repository.unikom.ac.id/id/eprint/16267

Actions (login required)

View Item View Item