Pemerintah Indonesia Tidak Memperjuangkan Kepentingan Rakyat: Tidak Ada Tempat Untuk Energi Terbarukan

Mely, (2002) Pemerintah Indonesia Tidak Memperjuangkan Kepentingan Rakyat: Tidak Ada Tempat Untuk Energi Terbarukan.

Full text not available from this repository.
Official URL: http://elib.unikom.ac.id/gdl.php?mod=browse&op=rea...

Abstract

Johannesburg, 3 September 2002 -- "Tragis", demikian komentar Agus Sari, Direktur Eksekutif Pelangi, atas hasil kesepakatan mengenai energi pada pertemuan tingkat Menteri yang baru saja selesai di KTT Pembangunan Berkelanjutan (World Summit on Sustainable Development) di Johannesburg, Afrika Selatan. "Pemerintah Dunia akhirnya bertekuk lutut terhadap industri besar dan OPEC". Kesepakatan yang diambil oleh Para Menteri pada akhir sesi negosiasi pada hari Senin, 2 September 2002, pk.20.00 ini menjadi sangat lemah karena tidak memiliki target dan timetable. Para Menteri hanya bersepakat untuk memasukkan energi fosil dan hidro, serta meningkatkan pangsa sumber energi terbarukan dunia "secara drastis" (substantially), dengan sasaran untuk meningkatkan kontribusinya pada ketersediaan energi total. Posisi Indonesia dalam persidangan WSSD di Johannesburg jauh lebih mundur dibandingkan dengan posisi waktu Prepcom WSSD di Bali, dimana Departemen Energi dan Sumberdaya Mineral telah mengumumkan target pangsa energi terbarukan sebesar 5 persen pada tahun 2010 sebagai bagian dari Program Energi Hijau Indonesia. "Dalam negosiasi bidang energi, Pemerintah Indonesia kalah sebelum berjuang, padahal seharusnya mereka berjuang atas nama rakyat," demikian kesimpulan yang diambil oleh Agus Purnomo, Direktur Eksekutif World Wide Fund for Nature (WWF) Indonesia."Dari dua menteri (Hasan Wirajuda, Menteri Luar Negeri dan Nabiel Makarim, Menteri Lingkungan Hidup; red.) yang bertugas untuk membawakan aspirasi Indonesia dalam pertemuan ini, tidak satupun yang menyempatkan diri untuk duduk dan bernegosiasi dalam pembahasan teks negosiasi yang berhubungan dengan isu energi," komentar Agus Purnomo. "Menteri LH Nabiel Makarim bahkan sudah beberapa kali diminta untuk mempertegas posisi Indonesia, sesuai dengan pembicaraan dengan Menteri ESDM, Purnomo Yusgiantoro, dan menyuarakannya dalam pembahasan draft kesepakatan di WSSD."Bukannya memperjuangkan kebutuhan energi yang bersih dan terbarukan bagi puluhan juta masyarakat Indonesia yang tidak memiliki listrik di pelosok-pelosok dan pulau-pulau kecil, dalam proses yang sangat tidak transparan, Delegasi Indonesia justru menyerahkan suaranya untuk mendukung para Raja Minyak Arab, Amerika Serikat, Australia, Jepang dan Cina untuk tidak membuat komitmen pengembangan energi terbarukan yang memadai. Teks akhir mengenai energi hanya berisi kata-kata berbunga yang hampa dan tidak mendukung pewujudan energi terbarukan."Padahal, untuk mencapai target energi terbarukan yang baru sebesar 10 persen dari saat ini, di luar biomassa tradisional dan hidro adalah tidak terlalu sulit," sambung Agus Sari. Saat ini, tanpa biomassa tradisional dan hidro skala besar, pangsa energi terbarukan di dunia adalah sebesar 2,2 persen. Berikut biomassa tradisional dan hidro skala besar pangsanya menjadi 13.5 persen. Pertumbuhan energi terbarukan sangat pesat dan diperkirakan setinggi 2.8 persen per tahun. Jadi secara teknis, target 10 persen energi terbarukan bukanlah hal yang tidak mungkin dilakukan. Namun seperti biasa, lagi-lagi rakyat kecil yang menjadi korban para elit dunia.- mel

Item Type: Article
Subjects: Collections > Koleksi Perpustakaan Di Indonesia > Perpustakaan Di Indonesia > JKPKJPLH > Perpustakaan PELANGI Indonesia > PressRealease
Divisions: Universitas Komputer Indonesia > Perpustakaan UNIKOM
Depositing User: M.Kom Taryana Suryana
Date Deposited: 16 Nov 2016 07:38
Last Modified: 16 Nov 2016 07:38
URI: https://repository.unikom.ac.id/id/eprint/3817

Actions (login required)

View Item View Item