PENGARUH KERAPATAN SEL DAN MACAM AGENSIA HAYATI TERHADAP PERKEMBANGAN PENYAKIT ANTRAKNOSA DAN HASIL TANAMAN CABAI (Capsicum annuum L.)

Rohmawati, Anis (2002) PENGARUH KERAPATAN SEL DAN MACAM AGENSIA HAYATI TERHADAP PERKEMBANGAN PENYAKIT ANTRAKNOSA DAN HASIL TANAMAN CABAI (Capsicum annuum L.).

Full text not available from this repository.
Official URL: http://elib.unikom.ac.id/gdl.php?mod=browse&op=rea...

Abstract

Cabai besar (C. annuum L.) merupakan salah satu komoditas sayuran yang mempunyai nilai ekonomis tinggi serta mempunyai peluang pasar yang baik. Buahnya dikenal sebagai bahan penyedap dan pelengkap berbagai menu masakan khas Indonesia. Karenanya, hampir setiap hari produk ini dibutuhkan. Kian hari, kebutuhan akan komoditas ini semakin meningkat sejalan dengan makin bervariasinya jenis dan menu makanan yang memanfaatkan produk ini. Selain itu, juga karena semakin digalakkannya ekspor komoditas nonmigas. Daerah penanaman cabai di Indonesia tersebar di Pulau Jawa seperti Jawa Timur (Gresik, Lamongan, Tuban, dan Malang), Jawa Tengah (Brebes, Semarang, Magelang, Rembang, dan DI Yogyakarta), dan Jawa Barat (Cianjur, Bandung, Serang, Bekasi, dan Bogor). Kawasan di luar Pulau Jawa meliputi Lampung, Sumatera Barat, dan Aceh Timur. Berdasarkan data statistik pertanian, produksi rata-rata cabai Indonesia periode 1987-1991 tercatat 506.430 ton/tahun, pertumbuhannya sekitar 2,38 % pada tahun terakhir. Pulau Jawa menghasilkan 52,25 %, sedangkan kawasan di luar Pulau Jawa menghasilkan 47,75 %. Kemampuan produksinya rata-rata sebesar 19-20,5 kuintal/ha. Berdasarkan potensi cabai itu sendiri, produksi tanaman sebanyak19-20,5 kuintal/ha masih tergolong rendah (Nawangsih, 1994). Penanaman cabai besar seringkali menghadapi berbagai kendala dalam meningkatkan produktifitas baik dari segi kualitas maupun kuantitas. Penggunaan benih varietas unggul, penerapan teknologi budidaya yang tepat, pemupukan secara berimbang serta pengendalian hama dan penyakit secara terpadu merupakan terobosan baru untuk meningkatkan produksi tanaman cabai. Serangan hama dan penyakit merupakan salah satu faktor yang dapat menghambat kelancaran dalam budidaya cabai. Salah satu jenis penyakit yang sering menyerang dan sangat ditakuti pada pertanaman cabai adalah penyakit antraknosa. Penyakit ini disebabkan oleh jamur Colletotrichum sp. yang pada tingkat serangan tertentu dapat merugikan hasil yang cukup besar juga dapat menghancurkan seluruh pertanaman. Pengendalian penyakit, terutama yang disebabkan oleh jamur selama ini dilakukan secara kimiawi dengan menggunakan fungisida. Cara pengendalian penyakit antraknosa dengan menggunakan fungisida memang lebih praktis bila dibandingkan dengan cara pengendalian lain. Akan tetapi sering terjadi fungisida yang disemprotkan tidak efektif terhadap antraknosa, sebagai akibat dari cuaca yang sangat menguntungkan bagi perkembangan penyakit. Selain itu penyemprotan fungisida yang dilakukan secara terus menerus dan dengan dosis yang semakin meningkat akan menimbulkan dampak negatif. Diantaranya dapat menurunkan kualitas hasil, produktifitas lahan, pencemaran lingkungan dan dapat meningkatkan kekebalan dari patogen itu sendiri terhadap fungisida, sehingga tidak dapat lagi dikendalikan dengan zat kimia tersebut. Penggunaan pestisida kimia tanpa melihat kompleksitas lingkungan pertanian, telah menjadi sebab utama terjadinya kerusakan. Pestisida dapat tetap tinggal dalam atau pada hasil panen atau dalam tanah, terbawa ke tanaman lainnya yang dekat letaknya, tercuci ke dalam sungai dan saluran air dan dengan demikian menciptakan bahaya bagi manusia dan hewan, atau menambah pengaruh sampingan. Bahan aktif pestisida dapat menjadi bahaya bagi hewan penyerbuk, margasatwa, dan makhluk lain yang menguntungkan (Sugito, 1995). Dalam budidaya tanaman cabai memerlukan upaya pendukung untuk mencegah dampak negatif dari pemakaian fungisida yang selaras dengan sistem pertanian yang aman dan murah serta dapat meningkatkan hasil panen baik kualitas maupun kuantitas, yaitu dengan suatu metode pengendalian terhadap hama dan penyakit secara terpadu terutama pengendalian secara biologis atau hayati. Salah satu cara pengendalian hayati yaitu dengan memanfaatkn khamir sebagai agen pengendalian hayati. Jeffries dan Kooman (1992 dalam Indratmi, 2001) bahwa T. viride, A. flavus, B. subtilis, dan beberapa species khamir bersifat antagonis terhadap C. gloeosporioides pada mangga.

Item Type: Article
Subjects: Collections > Koleksi Perpustakaan Di Indonesia > Perpustakaan Di Indonesia > JIPTUMM > S1-Final Project > Dept. Of Agriculture > Agronomy > 2002 > Event Semester
Divisions: Universitas Komputer Indonesia > Perpustakaan UNIKOM
Depositing User: M.Kom Taryana Suryana
Date Deposited: 16 Nov 2016 07:39
Last Modified: 16 Nov 2016 07:39
URI: https://repository.unikom.ac.id/id/eprint/4146

Actions (login required)

View Item View Item