FILM SEMI DOKUMENTER GUA SUNYARAGI

R, and Supriyanto, (2004) FILM SEMI DOKUMENTER GUA SUNYARAGI.

Full text not available from this repository.
Official URL: http://elib.unikom.ac.id/gdl.php?mod=browse&op=rea...

Abstract

Cirebon merupakan salah satu kota di daerah Jawa Barat yang terletak di pesisir pantai bagian utara Pulau Jawa dan merupakan daerah lintas perbatasan antara Jawa Barat dengan Jawa Tengah serta salah satu kota di Indonesia yang memiliki keraton. Hal tersebut sangatlah mempengaruhi kebudayaan di daerah Cirebon. Kebudayaan-kebudayaan tersebut banyak pula yang mempengaruhi bangunan selain bahasa dan kesenian di Kota Cirebon, jumlah dari bangunan/benda cagar budaya yang berada di Cirebon pada saat ini berjumlah 54 (lima puluh empat) buah. Benda cagar budaya adalah benda buatan manusia, bergerak atau tidak bergerak yang berupa kesatuan atau kelompok, atau bagian-bagian atau sisa-sisanya, yang berumur sekurang-kurangnya 50 (lima puluh) tahun, atau mewakili masa gaya yang khas dan mewakili masa gaya sekurang-kurangnya 50 (lima puluh) tahun, serta dianggap mempunyai nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan dan kebudayaan. Benda cagar budaya dapat pula diartikan sebagai benda alam yang dianggap mempunyai nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan dan kebudayaan. Gua Sunyaragi merupakan salah satu benda cagar budaya yang berada di Kota Cirebon. Gua Sunyaragi dapat pula disebut taman air gua Sunyaragi karena pada jaman dahulu kompleks gua tersebut dikelilingi oleh danau yaitu Danau Jati selain itu gua tersebut banyak terdapat air terjun buatan sebagai penghias gua tersebut. Gua Sunyaragi merupakan salah satu bagian dari keraton Pakungwati sekarang bernama keraton Kasepuhan. Sunyaragi berasal dari kata sunya yang artinya adalah sepi dan ragi yang berarti raga, karena tujuan utama didirikannya gua tersebut adalah sebagai tempat beristirahat dan meditasi para Sultan dan keluarganya. Sejarah berdirinya gua Sunyaragi memiliki dua buah versi, yang pertama adalah berita lisan tentang sejarah berdirinya gua Sunyaragi yang disampaikan secara turun-temurun oleh para bangsawan Cirebon atau keturunan keraton, versi tersebut lebih dikenal dengan sebutan versi Carub Kanda. Versi yang kedua adalah versi Caruban Nagari yaitu berdasarkan buku “Purwaka Caruban Nagari” tulisan tangan Pangeran Kararangan tahun 1720. Namun sejarah berdirinya gua Sunyaragi versi Caruban Nagari berdasarkan sumber tertulislah yang digunakan sebagai acuan para pemandu wisata gua Sunyaragi untuk menerangkan tentang sejarah gua Sunyaragi karena sumber tertulis lebih memiliki bukti yang kuat daripada sumber-sumber lisan. Dilihat dari gaya atau corak dan motif-motif ragam rias yang muncul serta pola-pola bangunan yang beraneka ragam dapat disimpulkan bahwa gaya arsitektur gua Sunyaragi merupakan hasil dari perpaduan antara gaya Indonesia klasik atau Hindu, gaya Cina atau Tiongkok kuno, gaya Timur Tengah atau Islam dan gaya Eropa. Gaya Indonesia klasik atau Hindu dapat terlihat pada beberapa bangunan berbentuk joglo, seperti pada bangunan Bale Kambang, Mande Beling dan gedung Pesanggrahan, bentuk gapura dan beberapa buah patung seperti patung gajah dan patung manusia berkepala garuda yang dililit oleh ular hal ini sangat dipengaruhi oleh gaya arsitektur Indonesia Klasik atau Hindu. Pengaruh gaya Cina dapat terlihat pada ukiran berbentuk bunga seperti bentuk bunga persik, matahari dan teratai, penempatan keramik-keramik pada bangunan Mande Beling serta motif mega mendung seperti yang terlihat pada kompleks bangunan gua Arga Jumut memperlihatkan bahwa gua Sunyaragi mendapatkan pengaruh gaya arsitektur Cina. Selain itu ada pula kuburan Cina, kuburan tersebut bukanlah kuburan dari seseorang keturunan Cina melainkan merupakan sejenis monumen yang berfungsi sebagai tempat berdoa para keturunan pengiring-pengiring dan pengawal-pengawal Putri Cina yang bernama Ong Tien Nio atau Ratu Rara Sumanding yang merupakan istri dari Sunan Gunung Jati. Sebagai peninggalan keraton yang dipimpin oleh Sultan yang beragama Islam, sangatlah wajar apabila benda cagar budaya gua Sunyaragi dilengkapi pula oleh pola-pola arsitektur bergaya Islam atau Timur Tengah. Seperti relung-relung pada dinding beberapa bangunan, tanda-tanda kiblat pada tiap-tiap pasholatan atau musholla, adanya beberapa pawudlon atau tempat wudhu serta bentuk bangunan Bangsal Jinem yang menyerupai bentuk Ka’bah jika dilihat dari sisi belakang Pangsal Jinem. Hal tersebut menjelaskan bahwa gaya arsitektur gua Sunyaragi juga mendapat pengaruh dari Timur Tengah atau Islam. Gua Sunyaragi didirikan pada jaman penjajahan Belanda sehingga gaya arsitektur Belanda atau Eropa turut mempengaruhi gaya arsitektur gua Sunyaragi, hal tersebut dapat terlihat pada bentuk jendela yang tedapat pada bangunan Kaputren, bentuk tangga berputar pada gua Arga Jumut dan bentuk gedung Pesanggrahan. Secara visual, bangunan-bangunan di kompleks gua Sunyaragi lebih banyak memunculkan kesan sakral. Kesan sakral dapat terlihat dengan adanya tempat bertapa seperti pada gua Padang Ati dan gua Kelangenan, tempat sholat dan pawudon atau tempat untuk mengambil air wudhu, lorong yang menuju ke Arab dan Cina yang terletak di dalam kompleks gua Arga Jumut dan lorong yang menuju ke Gunung Jati pada kompleks gua Peteng. Di depan pintu masuk gua Peteng terdapat patung Perawan Sunti, menurut kepercayaan masyarakat dulu jika seorang gadis memegang patung tersebut maka ia akan susah untuk mendapatkan jodoh. Kesan sakral nampak pula pada bentuk bangunan Bangsal Jinem yang menyerupai bentuk Ka’bah jika dilihat dari sisi belakang Bangsal Jinem. Selain itu ada pula patung Haji Balela yang menyerupai patung Dewa Wisnu. Penduduk sekitar gua Sunyaragi jika ingin mengadakan suatu acara seperti acara pernikahan, sunatan atau acara yang lain selalu memberikan sesajian agar acara yang akan dilaksanakan dapat berjalan dengan lancar. Pada tahun 1997 pengelolaan gua Sunyaragi diserahkan oleh pemerintah kepada pihak keraton Kasepuhan. Hal tersebut sangat berdampak pada kondisi fisik gua Sunyaragi karena biaya untuk proses pemeliharaan gua Sunyaragi dari pihak keraton Kasepuhan tidak sesuai dengan kebutuhan. Amat disayangkan jika jumlah benda cagar budaya harus berkurang dikarenakan kurangnya perhatian dari berbagai pihak. Jika hal ini terjadi bukan hanya benda cagar budaya yang akan hilang namun nilai-nilai sejarah yang terkandung didalamnya juga akan hilang.

Item Type: Article
Subjects: S1-Final Project > Fakultas Desain > Desain Komunikasi Visual > 2004
Divisions: Universitas Komputer Indonesia > Fakultas Desain
Universitas Komputer Indonesia > Fakultas Desain > Desain Komunikasi Visual (S1)
Depositing User: M.Kom Taryana Suryana
Date Deposited: 16 Nov 2016 07:40
Last Modified: 16 Nov 2016 07:40
URI: https://repository.unikom.ac.id/id/eprint/5334

Actions (login required)

View Item View Item