Mengenalkan Fenomena Gerhana Matahari Untuk Anak Remaja Dalam Bentuk CD Interaktif

Gilarginanjar Farlani, Iman (2005) Mengenalkan Fenomena Gerhana Matahari Untuk Anak Remaja Dalam Bentuk CD Interaktif.

Full text not available from this repository.
Official URL: http://elib.unikom.ac.id/gdl.php?mod=browse&op=rea...

Abstract

Pengamatan fenomena langit sebenarnya telah dilakukan sejak jaman kuno oleh orang-orang Cina, Mesopotamia, dan Mesir. Tetapi astronomi sebagai ilmu, baru berkembang di Yunani pada abad ke-6 SM. Babak Astronomi Yunani dimulai oleh Thales pada abad ke-6 SM yang berpendapat bahwa Bumi berbentuk datar. Walaupun pada abad yang sama Phytagoras telah mengetahui bahwa Bumi berbentuk bulat, terobosan penting yang pertama dalam astronomi dilakukan oleh Aristoteles dua abad kemudian. Aristoteles menyatakan bahwa Bumi bulat bundar dengan didukung sejumlah bukti ilmiah. Terobosan yang kedua hampir dilakukan oleh Aristarchus pada abad ke-3 SM jika saja dia mempunyai cukup banyak pendukung. Aristarchus bukan saja berpendapat bahwa Bumi bukanlah pusat alam semesta, tetapi juga menyatakan bahwa Bumi berputar dan beredar mengelilingi Matahari (Heliosentris) yang merupakan pusat gerak langit. Namun sayang teori ini tidak mendapat tempat pada jaman itu. Jaman Astronomi Klasik Yunani ditutup oleh Hipparchus pada abad ke-1 SM yang menyatakan bahwa Bumi yang bundar itu diam; Matahari, Bulan, dan Planet-planet mengelilingi Bumi. Sistem Geosentris ini disempurnakan oleh Ptolomeus abad ke-2 M dan lebih dikenal sebagai Sistem Ptolomeus. Lebih dari tiga belas abad konsep geosentris diterima masyarakat dunia. Pada tahun 1512 Kopernikus membuka sejarah baru dengan mengemukakan bahwa planet dan bintang bergerak mengelilingi Matahari dengan orbit lingkaran. Pada tahun 1609, Kepler mendukung gagasan tersebut dengan mengeluarkan tiga hukumnya yang selain menyebutkan bahwa Matahari adalah pusat Tata Surya, juga memperbaiki orbit planet menjadi elips. Pada tahun yang sama, Galileo menjadi penemu teleskop yang pertama. Melalui pengamatan dengan teleskopnya, ia mendapatkan kesimpulan bahwa Bumi bukanlah pusat gerak. Penemuan teleskop oleh Galileo bukan saja membantu menguatkan konsep Heliosentris Kopernikus, tetapi juga membuka lembaran baru dalam perkembangan ilmu astronomi. Alam semesta beserta segala isi didalamnya merupakan sesuatu yang masih menjadi misteri hingga kini. Banyak hal yang belum terungkap oleh ilmu pengetahuan kita tentang berbagai hal di alam semesta ini. Jika kita tertarik mengenai keberadaan alam semesta dan benda-benda langit maka kita bisa mempelajari ilmu astronomi. Ilmu Astronomi telah dipelajari sejak ribuan tahun yang lalu. Peninggalan peradaban tertua menunjukan bahwa astronomi memiliki banyak manfaat yang bisa diperoleh dengan mempelajarinya. Ilmu astronomi menjadi pedoman dalam menjalankan kehidupan sehari-hari. Petani yang acap mengacu pada rasi bintang Waluku (Orion) untuk mengerjakan pertanian, atau rasi Bintang Salib Selatan (Southern Crux) untuk pelayaran, sistem penanggalan Hijriyah maupun masehi berdasarkan sistem bulan dan matahari.

Item Type: Article
Subjects: S1-Final Project > Fakultas Desain > Desain Komunikasi Visual > 2005
Divisions: Universitas Komputer Indonesia > Fakultas Desain
Universitas Komputer Indonesia > Fakultas Desain > Desain Komunikasi Visual (S1)
Depositing User: M.Kom Taryana Suryana
Date Deposited: 16 Nov 2016 07:42
Last Modified: 16 Nov 2016 07:42
URI: https://repository.unikom.ac.id/id/eprint/6735

Actions (login required)

View Item View Item