Penuturan Cerita Wayang Dewa Ruci Dengan Media Audio Visual

Nurlela, (2005) Penuturan Cerita Wayang Dewa Ruci Dengan Media Audio Visual.

Full text not available from this repository.
Official URL: http://elib.unikom.ac.id/gdl.php?mod=browse&op=rea...

Abstract

Indonesia mempunyai berbagai macam suku dan di setiap suku mempunyai adat istiadat dan seni budaya, salah satunya adalah seni budaya wayang. Wayang adalah salah satu seni budaya yang ada di Indonesia, kesenian wayang dalam bentuknya yang asli timbul sebelum kebudayaan Hindu masuk di Indonesia dan mulai berkembang pada jaman Hindu Jawa, pertunjukan Kesenian wayang adalah merupakan sisa-sisa upacara pemujaan roh nenek moyang, yaitu sisa-sisa dari kepercayaan animisme dan dinamisme. Perkembangan wayang yang paling besar ada pada jaman kerajaan Demak dimana pada masa itu ajaran agama Islam sedang berkembang. Dalam ajaran agama islam yang tidak memperbolehkan menggambar manusia. Mengharamkan gamelan dan wayang karena berbau Hindu. Wujud dari wayang purwo yang menyerupai bentuk manusia diubah oleh para sunan menjadi bentuk yang hanya menggambarkan karakteristik dari tokoh-tokoh tersebut. Terutama para wali yang berhasil menciptakan bentuk baru dari Wayang Purwa dengan bahan kulit kerbau yang ditipiskan dengan wajah digambarkan miring, ukuran tangan dibuat lebih panjang dari ukuran tangan manusia. Wayang dari kulit kerbau ini diberi warna dasar putih yang dibuat dari campuran bahan perekat dan tepung, sedangkan pakaian diwarnai dengan tinta. Pada masa kerajaan Demak bukan hanya bentuk wayang yang diubah tapi juga mengubah teknik pakelirannya, yaitu dengan menggunakan sarana kelir atau layar, menggunakan pohon pisang sebagai alat untuk menancapkan wayang, menggunakan belencong sebagai sarana penerangan, menggunakan kotak kayu sebagai tempat penyimpanan wayang. Diciptakan pula alat khusus untuk memukul kotak yang disebut cempala. Meskipun demikian dalam pagelaran masih menggunakan lakon baku yaitu Ramayana dan Mahabarata, namun ceritanya lebih diperhalus atau disesuaikan dengan norma dan budaya Jawa yang sudah dimasukan unsur dakwah. Bentuk wayang ini dipakai seterusnya oleh masyarakat Jawa. Pada masa Kerajaan Demak juga merubah fungsi menjadi sarana berdakwah dan menyampaikan ajaran -ajaran agama Islam.

Item Type: Article
Subjects: S1-Final Project > Fakultas Desain > Desain Komunikasi Visual > 2005
Divisions: Universitas Komputer Indonesia > Fakultas Desain
Universitas Komputer Indonesia > Fakultas Desain > Desain Komunikasi Visual (S1)
Depositing User: M.Kom Taryana Suryana
Date Deposited: 16 Nov 2016 07:42
Last Modified: 16 Nov 2016 07:42
URI: https://repository.unikom.ac.id/id/eprint/6736

Actions (login required)

View Item View Item