PERUBAHAN VISUAL SAMPUL MAJALAH MANGLE PERIODE 1960-an SAMPAI 2000-an

Asliyah, Aas (2006) PERUBAHAN VISUAL SAMPUL MAJALAH MANGLE PERIODE 1960-an SAMPAI 2000-an.

Full text not available from this repository.
Official URL: http://elib.unikom.ac.id/gdl.php?mod=browse&op=rea...

Abstract

Majalah merupakan salah satu media pers yang diproses melalui percetakan seperti halnya surat kabar, buku bacaan, booklet dan media-media cetak lainya yang dapat di golongkan sejenisnya. Dalam arti luas pers meliputi berbagai media massa seperti radio, film, televisi dan alat-alat yang dapat dipergunakan dalam menyampaian pesan atau berita, baik yang bersifat penerangan ataupun hiburan, dari suatu organisasi ataupun perorangan yang ditujuan kepada suatu kelompok masyarakat. Salah satu cara untuk menyelenggarakan komunikasi itu adalah melalui media majalah. Majalah adalah salah satu media yang penerbitannya berlangsung secara preodik, dan ini merupakan salah satu syarat penerbitan sebuah majalah. Jadi bisa dikatakan majalah adalah tempat penyimpaan berita artikel yang diterbitkan secara berkala atau memiliki sistem periodik dalam penerbitanya. Graham’s Magezine adalah pelopor majalah umum yang terbit pada tahun 1826 sampai dengan tahun 1858. Pada tahun 1850, majalah umum berisikan cerita pendek, karangan-karangan sastra, cerita bersambung atau cerita petualangan. Pada tahun 1850 Harpers New Monthly Magazine berhasil membawakan popularitas yang besar untuk sebuah majalah umum, berdampak pada kecepatan dalam proses pengerjaan. Dalam era reformasi kebebasan pers bisa di nikmati oleh masyarakat. Hal ini ditunjukan dengan marak media cetak yang semakin banyak dan bervariasi. Ini memang bukan hanya pada era reformasi, tetapi telah lama hadir di tengah-tengah masyarakat. Perkembangan ini diawali tahun 1970-1980-an akibat dibuka pintu ekonomi indonesia pada investor asing baik dari segi jumlah maupun artistiknya. Dalam perkembangan dunia penerbitan yang semakin maju, dengan alat cetak yang canggih, kedudukan sampul terasa lebih menonjol dengan daya pikatnya yang kuat terhadap pembaca. Maka dari itu majalah-majalah yang punya pengaruh kepada pembaca yang luas, bisa menampilkan ilustrasi atau foto tersebut sebagai petunjuk isi majalah. Sehingga dengan hanya melihat sampul majalah, pembaca tahu peristiwa aktualitas apa saja yang dapat dibacanya dalam suatu majalah. Garis besarnya adalah materi yang tepat, subjek yang kuat serta mempunyai kualitas poster, yaitu dapat diamati secara kuat serta sederhana sekalipun terlihat dari jarak jauh. Sebuah sampul yang kuat secara ekspresinya itu-itu saja, bukanlah sampul yang baik. Ia harus mempunyai kualitas yang tidak hanya mampu memaksa pembaca untuk berhenti, tetapi juga mampu untuk menahannya. Sampul bisa dikatakan juga sebagai kemasan suatu produk karena sejak jaman dulu, kemasan sudah dikenal. Namun pada waktu itu, kemasan digunakan untuk melindungi barang terhadap cuaca atau proses alam lainnya yang dianggap dapat merusak barang selain itu, kemasan juga diguanakan sebagai wadah ini agar mudah dibawa kemana saja selama dalam perjalanan. selama berabad-abad, kemasan merupakan salah satu konsep fungsional sebagai sebatas untuk melindungi barang untuk dibawa dan masih terkesan seadanya namun seiring dengan yang semakin maju dan semakin kompleks, barulah terjadi penambahan nilai-nilai fungsional terutama pada sekarang dimana pesaing saling berlomba merebut perhatian calon konsumen. Dengan demikian, fungsional pengemasan telah menjadi penting dan harus mecakup seluruh proses pemasaran dari konsepsi produk sampai dengan pemakai akhir. Ini juga terjadi pada sampul majalah sebagai bagian dari kemasan suatu majalah. Jika sebuah sampul akan diguanakan semaksimal mungkin dalam pemasaran, fungsinya harus menampilkan sejumlah faktor penting sebgai berikut: faktor pengamanan, faktor ekonomi, faktor pengdistribusian, faktor komunikasi, faktor ergonomi, faktor estetika dan faktor identitas. Seluruh faktor tersebut sama penting satu dengan lainya dan merupakan satu kesatuan yang sangat vital untuk mendukung keberhasilan penjualan. Apalagi sekarang ini pola perdagangan modern khususnya metode penjualan swalayan yang menuntut sebuah sampul untuk tercapai apabila secara keseluruhan penampilan produk/majalah tersebut tidak dibuat semenarik mungkin. Menurut penyelidikan para ahli, dari seluruh kegiatan pengindraan manusia, 80 persen adalah pengindraan yang dilakukan melalui penglihatan. Dengan demikian, unsur-unsur grafis dari sebuah sampul yaitu warna, logo, bentuk, ilustrasi, huruf tata letak, merupakan unsur visual yang memegang porsi terbesar dalam penyampaian pesan kemasan secara kasatmata. Otak butuh rangsangan, otak menyukai kesederhanaan, otak cenderung emosional, otak sulit berubah, otak mudah kehilangan fokus dan otak butuh penyegaran. Karena keberhasilan suatu desain, perlu dipahami karakter otak karena sebenarnya otaklah yang memberikan sinyal-sinyal visual suatu desain. Daya tarik visual mengacu pada penampilan sampul atau label suatu produk yang mencakup warna, logo, ilustrasi, tipografi serta tata letak. Seluruhnya dikombinasikan untuk menciptakan suatu kesan menyeluruh untuk menciptakan suatu kesan menyeluruh untuk memberikan mutu daya tarik visual secara optimal. Daya tarik visual berhubungan dengan faktor emosi dan psikologi yang terletak pada bawah sadar manusia, desain yang baik memiliki efek positif sebagian besar tak kita sadari karena komsumen umumnya tidak menyadari bahwa mereka dipengaruhi oleh desain dan mereka tidak menganalisa setiap unsurnya. Dengan alasan tersebut diatas majalah MANGLE ingin menyesuaikan dengan selera pasar dan selera untuk konsumen baru maka melakukan perubahan-perubahan salah satunya pada sampul majalahnya. MANGLE merupakan majalah hiburan yang mengunakan bahasa Sunda yang masih bisa bertahan sampai sekarang. Pada saat ini Majalah MANGLE merupakan majalah satu-satunya yang mengunakan bahasa sunda. Penggunaan bahasa sunda ini menjadikan keunikan majalah MANGLE pada saat ini yang tidak pada majalah lain. Bila kita lihat pada saat itu majalah yang berbahasa Sunda bukan hanya majalah MANGLE saja pada saat itu. Ada pula majalah-majalah lain yang jika dilihat segi usia dan pengalaman lebih dari yang dimiliki MANGLE. Hal itu diangap sebagai usaha untuk lebih meningkatkan usaha positif kearah pengembangan majalah. Pada saat ini Majalah MANGLE merupakan majalah satu-satunya yang mengunakan bahasa Sunda. Penggunaan bahasa Sunda ini menjadikan keunikan majalah MANGLE pada saat ini yang tidak pada majalah lain. Oeton Muctar, Ny. Rochamina Sudarmika, Saleh Danasasmita, Wahju Wibisana, Sukanda Kartasasmita, Ali Basyah dan Abdulah Romli adalah orang-orang yang mencetuskan selikaligus mengerjakan ide penerbitan Majalah MANGLE. Tanggal 21 Nopember 1957 itulah yang kemudian ditetapkan sebagai lahirnya majalah MANGLE. Sejak saat itu setiap bulan majalah MANGLE mengunjugi pelanggannya, ternyata dalam kurun waktu yang relatif singkat majalah ini telah mendapatkan simpati masyarakat. Ini terbukti semakin menaiknya oplag pada setiap penerbitannya. Pada bulan Desember 1973 MANGLE pindah ke Bandung, Tiga tahun setelah pindah oplag majalah MANGLE 70 ribu exemplar. Artinya 140 kali oplag penerbitan perdana. Teristimewa lagi pada saat itu MANGLE sudah mampu terbit sebulan dua kali. Pada tahun 1971 MANGLE menepati kantor di jalan Lodaya 19 dan 21 kantor ini milik sendiri. Sejak saat itu majalah MANGLE terbit sebagai majalah mingguan setiap hari Kamis. Pada awalnya MANGLE dicetak dengan sistem letter press, dengan tepat percetakan berpindah-pindah. Dengan alasan utama untuk memuaskan pembaca, sejak tahun 1973 MANGLE dicetak offset dipercetakan. Makin hari makin terasa, bahwa mutu sebuah majalah tidak hanya ditentukan oleh isi, namun juga oleh sampul atau tata letak. Pengasuh MANGLE menyadari akan hal ini, apalagi jika dikaitkan dengan pesaingan tehadap majalah lain yang tampil lebih semarak. Penampilan akan semakin baik jika disamping tenaga kerja profesional juga ditunjang oleh keluasaan mengunakan alat cetak.Perjalanan yang sudah cukup lama ini, Majalah MANGLE bisa menjadi wakil perjalanan bekembangan majalah khususnya sampul majalah di Indonesia khususnya di Jawa Barat. 1.2. Identifikasi Masalah Pada masa “ keemasan” penerbitan mass media berbahasa Sunda, sekitas awal tahun 1960-an, sempat ada lebih dari sepuluh majalah secara bersamaan. Tetapi, hanya MANGLE yang bisa bertahan sampai sekarang. Dengan persaingan majalah-majalah hiburan baru dan perkembangan jaman dan teknologi yang secara tidak langsung menggeserkan kebudayaan bangsa ini. MANGLE merupakan majalah hiburan yang menggunakan bahasa Sunda yang masih bisa bertahan sampai sekarang. Kenyataan tersebut memperlihatkan bahwa masih ada sebagian orang masih mempertahankan dan masih ada yang berminat dengan majalah bahasa daerahnya ditengah-tengah orang–orang yang sudah mulai kehilangan jati dirinya sebagai orang daerah tersebut. Dengan hal-hal yang telah diuraikan di latar belakang, terdapat suatu masalah yang teramati yaitu mengenai perkembangan dunia penerbitan di Indonesia. Majalah MANGLE adalah majalah satu satunya yang mengunakan bahasa Sunda dalam penyajianya dan masih bisa bertahan hampir setengah abad, penggunaan bahas Sunda tersebut menjadikannya suatu kekhasan pada majalah MANGLE. Setengah abad merupakan umur yang sudah cukup lama, umur yang sudah cukup lama ini pihak MANGLE berkembang dan melakukan perubahan-perubahan pada majalahnya tersebut. Dengan perjalanan waktu yang cukup lama pula, majalah MANGLE bisa dijadikan perwakilan perjalanan atau perkembangan majalah khususnya pada sampul majalah Indonesia khususnya Jawa Barat

Item Type: Article
Subjects: S1-Final Project > Fakultas Desain > Desain Komunikasi Visual > 2006
Divisions: Universitas Komputer Indonesia > Fakultas Desain
Universitas Komputer Indonesia > Fakultas Desain > Desain Komunikasi Visual (S1)
Depositing User: M.Kom Taryana Suryana
Date Deposited: 16 Nov 2016 07:43
Last Modified: 16 Nov 2016 07:43
URI: https://repository.unikom.ac.id/id/eprint/7625

Actions (login required)

View Item View Item