ANALISIS ELIPSIS DALAM NOVEL THE SCARLET LETTER KARYA NATHANIEL HAWTHORNE (KAJIAN SINTAKSIS DAN SEMANTIS).

Rizka, Herlita (2006) ANALISIS ELIPSIS DALAM NOVEL THE SCARLET LETTER KARYA NATHANIEL HAWTHORNE (KAJIAN SINTAKSIS DAN SEMANTIS).

Full text not available from this repository.
Official URL: http://elib.unikom.ac.id/gdl.php?mod=browse&op=rea...

Abstract

Bahasa merupakan alat untuk berkomunikasi dalam interaksi sosial. Manusia dapat mengekspresikan ide-ide mereka dengan bahasa, bahkan suku primitif juga mempunyai bahasa untuk menunjukkan identitas mereka. Dengan kata lain, sepanjang hidupnya manusia akan menggunakan bahasa sebagai alat komunikasi. Karena melalui bahasa yang merupakan hasil berpikir, manusia dapat berinteraksi. Pernyataan ini senada dengan pengertian bahasa menurut Djuharie dan Suherli yaitu: “Bahasa adalah alat berpikir dan bernalar, dan bahasa merupakan alat pengantar untuk mengungkapkan apa yang kita pikirkan dan kita rasakan. Pernyataan ini mengisyaratkan fungsi bahasa yang penting, yakni tidak hanya sebagai alat komunikasi, melainkan juga alat untuk berpikir sekaligus menghasilkan buah pikiran. Bahasa yang tumbuh tanpa perancangan dapat menghalangi sistem berkomunikasi secara lancar antara pemakai-pemakai bahasa, sehingga dapat menyulitkan konseptualisasi dan juga perwujudan konsep-konsep hasil pemikiran”. (2001:73) Dalam berkomunikasi dengan bahasa, manusia menggunakan kalimat untuk menyampaikan ide maupun gagasannya. Pemahaman kalimat akan tercapai bila pendengar atau pembaca dapat memahami informasi yang disampaikan oleh penutur atau penulis dengan baik. Terkadang di dalam kalimat terdapat satu atau beberapa unsur yang bisa dilesapkan atau dielipsiskan apabila makna dari unsur- 1 2unsur tersebut sudah dimengerti. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Noel Burton yaitu: “When a sentence is actually used by a speaker (i.e. when a speaker actually utters it), almost anything can be omitted, provided that the omitted elements can be understood from text in which it is used. The omission from sentences of required elements capable of being understood in the context of their use is called ellipsis.” (1997:111) Dalam suatu kalimat terdapat unsur-unsur yang kemungkinan bisa dihilangkan apabila unsur-unsur tersebut sudah dipahami. Elipsis dalam bahasa Inggris mempunyai ciri-ciri tertentu pada penggunaannya dan tidak sembarangan kata, frasa, atau klausa yang dapat dielipsiskan. Halliday menyatakan bahwa: “Ellipsis sets up a relationship that is not semantic but lexicogrammatical—a relationship in the wording rather than directly in the meaning.” (1985:296) Menurut keterangan tersebut, elipsis lebih membentuk hubungan di antara kata daripada membentuk hubungan di dalam makna. Pada dasarnya, elipsis sama seperti substitusi, yang membedakannya adalah substitusi merupakan penggantian elemen kata dengan kata yang lain, sedangkan elipsis adalah penghilangan elemen dalam suatu kalimat. Hal ini sesuai dengan pendapat Halliday (1989: 88) “Substitution is the replacement of one item by another, and ellipsis is the omission of an item.” Berikut merupakan contoh substitusi dan elipsis dalam bahasa Inggris: 1. Has Barbara left? ─ I think so. (Halliday, 1989: 90): Contoh di atas merupakan contoh substitusi. Substitusi terjadi pada kata so dan elemen yang digantikan adalah Barbara has left. Kalimat jawaban lengkapnya adalah I think (Barbara has left). 32. I think you ought to tell me who you are, first.─ Why? (Halliday, 1985: 299): Saya pikir anda harus memberi tahu saya siapa anda, terlebih dahulu. ─ Kenapa? Contoh 2 di atas merupakan contoh dari elipsis, elemen yang dielipsiskan adalah ought I to tell you who I am ‘saya harus memberi tahu anda siapa saya’. Jawaban lengkapnya adalah why ought I to tell you who I am ‘kenapa saya harus memberi tahu anda siapa saya’. Akan tetapi, walaupun secara sintaktis terjadi perubahan struktur karena terjadi elipsis klausal yang berupa ought I to tell you who I am, kalimat tersebut berterima karena elemen yang dielipsiskan mengacu pada kalimat sebelumnya. Secara semantis, kalimat tersebut dapat dimengerti jika kita melihat konteks kalimat secara keseluruhan. Akan tetapi, jika kita hanya melihat kata why saja tanpa melihat konteks kalimat secara keseluruhan, kita tidak akan tahu makna dari kata why tersebut. Jadi, kata why mengacu pada kalimat sebelumnya. Berdasarkan hal-hal di atas, penulis merasa tertarik untuk menganalisis lebih lanjut mengenai elipsis ditinjau dari segi sintaktis dan semantis. Adapun judul penelitian ini adalah “Analisis Elipsis dalam Novel The Scarlet Letter karya Nathaniel Hawthorne (Kajian Sintaktis dan Semantis)”.

Item Type: Article
Subjects: S1-Final Project > Fakultas Sastra > Sastra Inggris > 2006
Divisions: Universitas Komputer Indonesia > Fakultas Sastra
Universitas Komputer Indonesia > Fakultas Sastra > Sastra Inggris (S1)
Depositing User: M.Kom Taryana Suryana
Date Deposited: 16 Nov 2016 07:43
Last Modified: 16 Nov 2016 07:43
URI: https://repository.unikom.ac.id/id/eprint/7883

Actions (login required)

View Item View Item