LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN DI PERUSAHAAN HOTEL PANGHEGAR BANDUNG PROVINSI JAWA BARAT

Juliano Prakasa, Sangra (2007) LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN DI PERUSAHAAN HOTEL PANGHEGAR BANDUNG PROVINSI JAWA BARAT.

Full text not available from this repository.
Official URL: http://elib.unikom.ac.id/gdl.php?mod=browse&op=rea...

Abstract

Hotel Panghegar sudah berdiri sejak tahun 1922 dengan nama Van Hengel, oleh Ny. A. M. Meister yang berkewarganegaraan Itali. Pada saat itu Van Hengel hanya memiliki 40 kamar, dalam keadaan bangunan yang terpisah-pisah dan lebih menyerupai hotel pension, yaitu fasilitas penginapan dalam jangka waktu yang relatif panjang. Pengunjungnya kebanyakan tamu tetap (sewa bulanan), sedangkan sewa kamarnya disatukan dengan biaya makan dan minuman (all-in). Pada tahun 1956, Hotel Van Hengel oleh Ny. A.M Meister dijadikan sebuah NV (Naamloze Vennootschap) dengan penambahan jumlah kamar menjadi 48 kamar. Dibawah pengelolaan beliau hotel ini telah terkenal sebagai hotel yang sangat memuaskan dalam pelayanan (service), kondisi ruangan serta makanan dan minuman yang memenuhi selera tamu. Pada akhir tahun 1958, beliau kembali ke Italia, dua tahun kemudian beliau memberikan kesempatan kepada Bapak Ruhiyat untuk membeli saham hotel tersebut. Perlu untuk diketahui Bapak Ruhiyat adalah salah seorang pegawai yang bekerja di hotel ini sejak tahun 1943. Pada tahun 1962, semua saham hotel sudah dibeli oleh beliau dan menjadi pemilik sekaligus pengusaha dari hotel tersebut sampai sekarang. Digugah oleh rasa nasionalisme dan menyesuaikan dengan lokasi hotel yang terletak dijantung tanah parahyangan, maka tahun 1963 Hotel Pension Van Hengel diubah menjadi Hotel Panghegar. Nama tersebut berasal dari bahasa sunda yang berarti bersih dan menyenangkan. Sejak saat itu fasilitas hotel ditingkatkan dengan melengkapi kamar mandi sendiri. Pada tahun 1968, Bapak Ruhiyat dikenal sebagai pengusaha yang ulet, beliau memanfaatkan kesempatan memperoleh kredit PMDN (Penanaman Modal Dalam Negeri) untuk merenovasi hotel dan berhasil menambah jumlah kamar menjadi 60 kamar dengan fasilitas standar sebagai Hotel Nasional. Penambahan kamar ini sangat penting mengingat jumlah tamu yang semakin meningkat, ditambah dalam realisasi pemerintah dalam Repelita Pertama yang salah satu sasarannya adalah peningkatan devisa dibidang kepariwisataan. Keberhasilan Hotel Panghegar, membuka kesempatan untuk kembali memperoleh kredit dari BAPINDO (Bank Pembangunan Indonesia). Dana itu digunakan untuk membongkar 20 kamar lama dan mendirikan gedung berlantai 6 dengan 114 kamar standar yang bertaraf Hotel Internasional. Pelayanan kamar pun mulai ditingkatkan dengan penyediaan telepon, TV, Radio, AC, wall to wall carpeting, car call, telex, salon kecantikan, ruang pertemuan, dan juga fasilitas hotel seperti Coffee Shop, Bar, Swimming Pool, untuk umum maupun tamu. Pada akhir tahun 1976, pada bangunan yang berlantai 6 itu dibangun kembali kamar-kamar sehingga berjumlah 125 buah kamar dan dilengkapi dengan lift. Tahun 1982 hotel tersebut direnovasi dengan membongkar 32 kamar dan mendirikan bangunan baru dengan 10 lantai sehingga mencapai 223 kamar standar. Dengan digunakannya kamar sebagai kantor, maka kamar yang diopersikan berjumlah 201 kamar. Pada tahun 1984 Hotel Panghegar mendirikan Panyawangan Restaurant, sebagai restoran berputar satu-satunya di Indonesia. Kemudian restoran ini diresmikan oleh Bapak Achmad Taher selaku Menteri PARPOSTEL yang pada saat itu bertepatan dengan ulang tahun Hotel Panghegar yang ke-60, tepatnya pada bulan mei 1984. Ide pembuatan restaurant ini sebenarnya berawal ketika tahun 1978 H.E.K. Ruhiyat, sebagai pemilik Hotal Panghegar mengunjungi Jepang. Disana ia sempat menikmati makan malam di New Otani, sebuah rooftop revolving restoran. Dari pengalaman ini, kemudian ia teringat bahwa diatas Hotel Panghegar masih terdapat “excess capacity” yang dapat menahan beban air sebanyak 90 ton. Sehingga ia pun berusaha mewujudkan impiannya untuk membuat restoran ini. Selain itu panorama kota Bandung begitu indah di malam hari ditambah lagi dengan desain restoran yang memberikan suasana romantis dan ekslusif. Dengan beberapa kali dilakukannya renovasi maka jumlah hotel yang dioperasikan hingga sekarang berjumlah 194 dikarenakan penambahan fasilitas dan keperluan-keperluan lainnya. Selain itu Hotel Panghegar juga menyewakan sebagian dari ruangan hotelnya kepada pihak luar. Pada tahun 2005 tepatnya pada bulan Juni Hotel Panghegar mengganti slogannya menjadi “The Family Choice”, maksud dari slogan tersebut adalah bahwa Hotel Panghegar selalu menjadi pilihan bagi keluarga yang menginap. Sesuai dengan perubahan slogan tersebut maka terjadi juga terhadap perubahan lambang Hotel Panghegar menjadi lambang payung, arti dari lambang payung ini menggambarkan bahwa Hotel Panghegar merupakan salah satu hotel bintang empat yang memberikan naungan, keteduhan, ketenangan, dan ketentraman agar mereka yang menginap di Hotel Panghegar memperoleh suatu kesegaran baru ketika menginap di Hotel Panghegar.

Item Type: Article
Subjects: Laporan Kerja Praktek > Fakultas Sospol > Ilmu Komunikasi > 2007
Divisions: Universitas Komputer Indonesia > Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Universitas Komputer Indonesia > Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik > Ilmu Komunikasi (S1)
Depositing User: M.Kom Taryana Suryana
Date Deposited: 16 Nov 2016 07:44
Last Modified: 16 Nov 2016 07:44
URI: https://repository.unikom.ac.id/id/eprint/8926

Actions (login required)

View Item View Item