MUATAN NILAI PENDIDIKAN BUDI PEKERTI DALAMTRANSLITERASI DAN RESEPSI TEKS "TJARITA SALAWE" KARYA M SOEHOED ARDJASOEWIGNJA, NASKAH COMMISSIE VOOR DE VOLKSLECTUUR BALAI POESTAKA NOMOR 596 TAHUN 1922

Budi Wurianto, Arif and Drs, and Si, M (2000) MUATAN NILAI PENDIDIKAN BUDI PEKERTI DALAMTRANSLITERASI DAN RESEPSI TEKS "TJARITA SALAWE" KARYA M SOEHOED ARDJASOEWIGNJA, NASKAH COMMISSIE VOOR DE VOLKSLECTUUR BALAI POESTAKA NOMOR 596 TAHUN 1922.

Full text not available from this repository.
Official URL: http://elib.unikom.ac.id/gdl.php?mod=browse&op=rea...

Abstract

Sejarah sastra modern di Indonesia diawali dengan berdirinya Commissie Voor de Volkslectuur atau sering disebut dengan Balai Pustaka. Komisi ini pada awalnya dibentuk untuk menanggulangi bacaan liar yang beredar di masyarakat baik dalam bentuk surat kabar maupun cerita-cerita tulis yang membahayakan pemerintah kolonial Belanda. Sastra pada masa ini disebut dengan sastra masa kebangkitan, terutama pada periode 1920'an. Pada masa Balai Pustaka ini banyak diterbitkan karya-karya sastra, baik yang ditulis oleh orang Indonesia (Melayu, Jawa, Sunda) dan orang-orang peranakan (Tionghoa) maupun bangsa Eropa dan Peranakan Eropa Selain menerbitkan buku dalam bahasa Melayu (Indonesia), Balai Pustaka juga menerbitkan buku-buku cerita rakyat dan roman terjemahan dalam bahasa dan huruf daerah. Umumnya naskah-naskah ini tidak pernah dikenal pada masa sekarang. Pada masa kini, karya masa Balai Pustaka yang ditulis dalam bahasa dan huruf Jawa tidak diterbitkan kembali, bahkan menjadi koleksi perpustakaan pun sudah jarang. Untuk itulah melalui kajian Filologi modern, naskah-naskah tersebut kembali ditelaah untuk melengkapi informasi jenis dan ragam terbitan Balai Pustaka sebagai tonggak sastra Indonesia. Dalam penelitian filologi, objek kajian tidak saja mengkaji naskah-naskah klasik (naskah lama/kuno) nusantara yang ditulis dengan tangan (handschrift/manuskrip), tetapi juga mengkaji naskah-naskah yang telah tercetak (codex) termasuk di dalamnya terbitan Balai Pustaka yang masih banyak belum digali dan dikaji.Penelitian ini mempunyai tujuan (1)Secara umum bertujuan memperkenalkan salah satu bentuk karya sastra masa Balai Pustaka yang ditulis dengan bahasa dan huruf daerah yang pada masa sekarang tidak diketahui lagi dalam khazanah sastra Indonesia. (2)Secara khusus penelitian ini dimaksudkan untuk mentranskripsikan naskah"Tjarita Selawe" karya M. Soehoed Ardjasoewignja beserta hasil terjemahannya. Termasuk di dalamnya dikaji temuan-temuan (diskusi hasil) berdasarkan isi naskah.Penelitian ini dibatasi dalam ruang lingkup wilayah dari ruang lingkup materi. Dalam lingkup materi, penelitian ini dibatasi hanya terhadap naskah "Tjarita Selawe", sebuah naskah berbahasa Jawa dan ditulis dalam huruf Jawa, diterbitkan pertama kali oleh Balai Pustaka tahun 1922. Adapun lingkup penelitian, disamping meneliti kondisi fisik naskah, yaitu mengenai ragam tulisan, penggunaan bahasa, penggunaan kaidah estetik, penyajian suntingan teks, dan terjemahan, juga akan mengkaji mengenai struktur cerita dan penceritaan, serta nilai budaya dan sejarah (kajian resepsi teks) serta diskusi hasil temuan penelitian yang terkandung dalam teks.Penelitian ini merupakan penelitian filologi, sehingga cara kerja penelitian ini mengikuti langkah-langkah sebagaimana suatu penelitian filologi. Langkah-langkah yang ditempuh dalam penelitian ini meliputi pengumpulan data, pengolahan data dan analisis data. Untuk pengumpulan data, dilakukan dengan pencermatan terhadap naskah yang dijadikan objek penelitian. Sehubungan dengan penelitian filologi ini dilakukan atas naskah tunggal atau kodeks, maka penelitian ini menggunakan pencatatan identias atas naskah tunggal. Kegiatan pengolahan data dilakukan dengan cara mengadakan transkripsi dan transliterasinaskah secara filologis. Kegiatan analisis dilakukan dengan cara mengkaji struktur cerita dan penceritaan serta mengkaji informasi historis dan budaya secara resepsi sastra. Selanjutnya dicari temuan-temuan penelitian untuk disajikan kembali secara dideskriptif Hasil transkripsi menunjukkan bahwa keduapuluh lima cerita yang ada dalam naskah ini adalah (1) Diwelas marang wong kang nandhang papa, (2) Samubarang kang kena kagarap tumuli, aja kosumenekake mengko-mengko, (3) Panganen-angen, (4) Kere kang gedhe Pitulungane, (5) Rukun agawe slamet, (6) Ora antepan, (7) Ing samubarang gawe aja kesusu, (8) Gemi agawe seneng ing ati, (9) Panunggalane carita ing dhuwur, (10) Dimituhu marang pitutur Becik, (11) Kabegjan kerep agawe lali, (12) Ngamal reged ora amberkati, (13) Mumpung durung kasep dingati-ati, (14) Aja pitaya marang wong kang sumuci-suci, (15) Diewa marang budi cethil, (16) Ing sajroning kasusahan aja entek pangarep-arepmu, (17) Aja kelu marang tembung pangonggrong, (18) Wong kang ringkih kudu sugih akal, (19) Bungah lan susah iku tansah gilir gumanti, (20) Dingati-ati marang wetuning calathumu, (21) Sing sapa duwe sedya ngapusi uwong, iku prasasat arep ngapusi awake dhewe, (22) Aja kukumpulan kambi wong ala, supaya kowe aja kelepetan ing pialane, (23) Aja kuminter, aja lancang, aja kumajon, (24) Mumpung bocah ditaberi ngudi kawruh, (25) Taberi agawe kabegjan, kesed nuntun marang kamlaratan.Berdasarkan isi teks, diperoleh diskusi hasil penelitian bahwa naskah ini merupakan bentuk pendidikan budi pekerti di sekolah-sekolah (terutama sekolah di Jawa) melalui pelajaran bahasa (menyimak dan membaca). Temuan yang diperoleh adalah penyajian materi budi pekerti dalam buku yang tidak berbentuk uraian tetapi dalam bentuk cerita. Lebih lanjut penyajian materi dalam bentuk cerita dimungkinkan memiliki dua implikasi yaitu menarik dan lebih mengembangkan daya imajinasi. Berkaitan dengan materi pembelajaran bahasa, dimungkinkan melalui bentuk naskah semacam ini, model pembelajaran menyimak dan membaca sangat efektif, sehingga menimbulkan daya nalar dan imajinasi anak. Materi budi pekerti yang ditampilkan menggambarkan kondisi kehidupan sehari-hari, meskipun sumber ide cerita ada yang berbentuk saduran (seperti cerita nomor 1), dongeng, dan lebih banyak berbentu petuah, saran dan himbauan. Teknik cerita dikembangkan secara bertutur. Rekomendasi hasil penelitian adalah model buku sastra seperti terbitan Balai Pustaka 1922 ini dapat dikembangkan dalam materi Budi Pekerti di Sekolah Dasar pada masa sekarang dengan menyesuaikan dengan tema cerita berdasarkan alam modern. Secara materi, budi pekerti dapat disajikan dalam bentuk cerita, sedangkan apabila secara metodik dapat dikembangkan melalui kegiatan ketrampilan berbahasa seperti menyimak cerita guru sebelum setiap pelajaran dimulai, maupun membaca.

Item Type: Article
Subjects: Collections > Koleksi Perpustakaan Di Indonesia > Perpustakaan Di Indonesia > JIPTUMM > Research Report > Education > Literature And Bahasa Indonesia
Divisions: Universitas Komputer Indonesia > Perpustakaan UNIKOM
Depositing User: M.Kom Taryana Suryana
Date Deposited: 16 Nov 2016 07:35
Last Modified: 16 Nov 2016 07:35
URI: http://repository.unikom.ac.id/id/eprint/974

Actions (login required)

View Item View Item