USULAN PENENTUAN JUMLAH KARTU KANBAN DENGAN PENDEKATAN SISTEM TERINTEGRASI MRP II (MANUFACTURING RESOURCES PLANNING) DAN JIT (

Istiqomah Gumilang, Desma (2007) USULAN PENENTUAN JUMLAH KARTU KANBAN DENGAN PENDEKATAN SISTEM TERINTEGRASI MRP II (MANUFACTURING RESOURCES PLANNING) DAN JIT (. Diploma thesis, Universitas Komputer Indonesia.

Full text not available from this repository.
Official URL: http://elib.unikom.ac.id/gdl.php?mod=browse&op=rea...

Abstract

Tuntutan globalisasi menuntut dunia industri untuk membangun profesionalisme yang mencakup keseluruhan sistem industri, sehingga kita dapat memahami konsep sistem produksi dalam performansi bisnis modern. Industri modern yang berada dalam pasar global yang sangat kompetitif menganut konsep produksi bukan sekedar sebagai aktivitas mentransformasikan input menjadi output, tetapi memandang konsep produksi sebagai aktivitas penciptaan nilai tambah (value added), untuk setiap aktivitas dalam proses produksi harus memberikan nilai tambah. Pemahaman terhadap nilai tambah dirasakan sangat penting, hal ini guna untuk menghindari pemborosan (waste) dalam setiap aktivitas produksi. CV. Kiranyata Teknik adalah perusahaan manufaktur dengan tipe industri “Make To Order” yang bergerak di bidang produksi karet, plastik dan logam yang menghasilkan beberapa jenis produk, diantaranya adalah: karet Strap, Cushion, Holder dan Knob. Untuk produk Karet Strap merupakan produk yang banyak diminta oleh produsen dan diproduksi setiap hari oleh CV. Kiranyata Teknik. Proses yang dilakukan pada produk Karet Strap bersifat flowshop yaitu proses yang berlangsung secara terus menerus dari satu stasion kerja (work station) ke stasion kerja yang lainnya secara berurutan. Proses produksi Karet Strap mengalami 5 tahap yaitu proses Pembentukan, Pencetakan, Pemotongan (cutting), Pemasanagn Kawat dan terakhir dilakukan Pemeriksaan (Inspeksi). Saat ini, perusahaan tengah menerapkan sistem produksi Just In Time (JIT) dengan tujuan untuk menambah nilai produk dan mengurangi pemborosan menggunakan aliran informasi Kanban Kartu. Namun, baik dari penerapan sistem produksinya maupun sistem kanbannya dinilai kurang optimal, sehingga masih menimbulkan beberapa kegiatan pemborosan (waste). Pemborosan yang terjadi di CV. Kiranyata Teknik adalah produksi yang berlebihan sehingga berdampak pada penyimpanan (inventory), sedangkan dalam sistem produksi Just In Time (JIT) inventori juga merupakan pemborosan. Maka dari itu inventori perlu dihilangkan atau diminimumkan. Produksi berlebihan yang mengakibatkan tingginya jumlah inventori tersebut dipengaruhi pula dengan jumlah safety stock yang ditetapkan perusahaan sebesar 10.000. Hal ini menunjukan bahwa perusahaan memberikan kelonggaran bagi pekerja untuk menghasilkan produk cacat (reject). Kondisi produk cacat dalam sistem JIT juga merupakan pemborosan. Pemborosan lain timbul karena penggunaan dari Kanban, yaitu penumpukan barang setengah jadi (Work In Process - WIP). WIP yang timbul di CV. Kiranyata Teknik diakibtkan karena ketidakseimbangan pada beberapa work station berdasarkan jumlah dan kapasitas mesin yang tersedia. Terjadinya botleneck, mengakibatkan proses berikutnya melakukan kegiatan menunggu (waiting). Menunggu adalah kegiatan yang tidak memberikan nilai tambah pada produk, maka termasuk dalam pemborosan. Timbulnya botleneck juga menunjukan terjadinya pergerakan atau pemindahan material dengan sistem tekan (push system) tanpa Kanban, hal ini melanggar peraturan dari Kanban itu sendiri. Pelanggaran lain yang dilakukan pekerja dari peraturan dasar sistem Kanban adalah parts /material yang cacat tetap diteruskan atau dikirim ke proses berikutnya. Dampak lain dari pemborosan produksi berlebihan yaitu terhadap penggunaan kartu Kanban. Semakin tinggi produksi, semakin banyak jumlah kartu Kanban yang digunakan. Maka dari itu akan dilakukan penentuan jumlah kartu Kanban untuk diterapkan di CV. Kiranyata Teknik. Selama ini CV. Kiranyata Teknik menggunakan kartu Kanban sebanyak 5 buah untuk masing-masing work station tanpa rincian perhitungan yang jelas. Hal ini hanya berdasarkan kesanggupan dari pekerja/operator mesin untuk menghasilkan produk. Mengurangi pemborosan (waste) adalah sebagian dari tujuan strategi sistem perencanaan dan pengendalian manufaktur. Strategi sistem perencanaan dan pengendalian manufaktur terbagi menjadi enam bagian, yaitu: Project Management (PM), Manufacturing Resource Planning (MRP II), Just-In-Time (JIT), Continuous Process Control, Flexible Control System, Agile Control System. Pada dasarnya manajemen industri dapat memilih satu atau lebih atau mengkombinasikan pilihannya dari keenam strategi sistem perencanaan dan pengendalian manufakturing di atas. Sistem perencanaan dan pengendalian manufakturing yang digunakan adalah kombinasi yang mengintegrasikan keunggulan-keunggulan dari sistem Manufacturing Resource Planning (MRP II) dan Just-In-Time (JIT) yang diperkenalkan oleh Dr. Vincent Gaspersz, D.Sc. Penerapan JIT diyakini mampu untuk menjawab tantangan yang ada dan merupakan alat yang efektif untuk menghasilkan tujuan akhir dengan menghasilkan produk berkualitas sesuai keinginan konsumen. Salah satu alat yang digunakan untuk memanajemeni metode produksi JIT adalah sistem Kanban. Kanban adalah suatu kartu dalam sistem informasi yang secara serasi mengendalikan jumlah produksi dalam setiap proses. Pada sisi lain, sistem MRP II merupakan suatu sistem informasi terintegrasi yang menyediakan data di antara berbagai aktivitas produksi dan area fungsional lainnya dari bisnis secara keseluruhan. Melaui pengkombinasian sistem MRP II dan JIT, perusahaan dapat meramalkan, merencanakan, dan mengendalikan kebutuhan material. Informasi ini kemudian akan diberitahuakan kepada bagian produksi untuk menentukan kebutuhan parts harian berdasarkan prinsip-prinsip JIT. Kebutuhan aktual harian tersebut, merupakan permintaan dalam penentuan jumlah Kanban yang dibutuhkan untuk memenuhi permintaan konsumen. Dengan pengkombinasian sistem terintegrasi MRP II dan JIT, jumlah Kanban dapat diminimasi dengan mengurangi safety stock, sehingga penetapan safety factor mencapai 1,0 yang berarti telah mencapai kondisi ideal dari JIT, karena tidak ada lagi safety stock. Selain itu, fungsi Kanban bukan hanya sekedar menyalurkan informasi tepat waktu, namun juga akan mendorong terciptanya berbagai perbaikan lebih lanjut seperti penghapusan WIP, minimasi nilai Inventory, dan aktivitas lain yang menyebabkan pemborosan (waste).

Item Type: Thesis (Diploma)
Subjects: S1-Final Project > Fakultas Teknik Dan Ilmu Komputer > Teknik Industri > 2007
Divisions: Universitas Komputer Indonesia > Fakultas Teknik dan Ilmu Komputer
Universitas Komputer Indonesia > Fakultas Teknik dan Ilmu Komputer > Teknik Industri (S1)
Depositing User: M.Kom Taryana Suryana
Date Deposited: 16 Nov 2016 07:46
Last Modified: 16 Nov 2016 07:46
URI: https://repository.unikom.ac.id/id/eprint/9892

Actions (login required)

View Item View Item